Tren Pengemasan di Indonesia

  • Home
  • Tren Pengemasan di Indonesia

Gaya hidup digital membawa perubahan fundamental terhadap gaya belanja masyarakat serta bagaimana produk dikemas, didistribusikan dan disajikan kepada konsumen. Penggunaan corrugated box, wrapping plastic, bubble wrap, ready-to-meal box, retort, sachet, single bite packaging meningkat karena perubahan trend ke arah urban lifestyle. Penggunaan kemasan untuk ready to eat atau ready to prep mulai banyak dilirik menyesuaikan dengan kebutuhan akan produk instan yang tetap berkwalitas dan hygiene. Selain itu, consumer terutama generasi milenial sangat menyukai hal baru, untuk itu produk dengan kemasan kecil na- mun variatif menjadi sangat digemari saat ini.

Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah over used packaging yang sangat sering terjadi. Sampah dari post used packaging terutama plastic menjadi sangat menumpuk pasca booming online shopping. Sebenarnya awareness dari masyarakat dan pemerintah terhadap issue sampah sudah ada. Selain itu industri pengemasan juga sudah terus di dorong untuk berbenah.

Collecting botol PET bekas pakai dan recycle sudah dilakukan, dan budaya collecting post-used packaging untuk flexible packaging juga terus diupayakan. Proses fleksibel packaging desain dari multi layer ke mono material masih terus diupayakan. Pada aplikasi tertentu, mono material packaging masih sulit menyamai kualitas flexible packaging yang ada, baik secara tampilan ataupun kegunaannya. Kemasan yang bisa di reuse, recycle dan biodegradable tanpa mengurangi nilai mutu atau fungsinya menjadi target development bagi industry pengemasan di 2022.

Penyusunan pedoman dan kooperatif untuk mendukung rdaur ulang plastik terus diupayakan. IPF bersama WPO aktif dalam penyusunan Packaging Design for Recycling Guidelines. Disamping itu networking antara aliansi para brand owner seperti Danone, Nestle, Unilever, Coca Cola, Indofood dan Tetrapak dengan nama PRAISE, yang membentuk badan pelaksana IPRO dan asosiasi daur ulang plastik ADUPI terus digalakkan. Menggantikan packaging design menjadi recyclable, edukasi consumers, penyiapan collecting post used packaging waste dan system rewarding atau insentif menjadi pekerjaan rumah yang terus digarap. Upaya ini diharapkan dapat mendukung tercapainya circular economy untuk industri pengemasan sepuluh tahun kedepan.

Tahun 2019 hingga 2021 bisa jadi merupakan tahun yang cukup berat. Reformasi pada operasional industri, fluktuasi supply dan demand, kondisi finansial, dan issue lingkungan datang ber- barengan. IPF sendiri melihat tantangan ini sebagai katalis bagi inovasi agar tercapainya peralihan ke teknologi ke arah yang lebih positif di masa mendatang. Selama masa transisi ini, fleksibiltas, inovasi dan kesiapan beradaptasi ke situasi new nor- mal menjadi kompetensi yang wajib dimiliki industri untuk tetap stabil atau bahkan berkembang dan bersaing di pasar baik lokal mau pun global.