Pasokan Material dan Logistik Global

  • Home
  • Pasokan Material dan Logistik Global

Sepanjang 2021 kesulitan logistik masih belum dapat teratasi dengan baik. Dari sisi raw material packaging, kenaikan harga yang sangat signifikan terjadi di Q3-Q4. Kenaikan harga bahan baku 2021 bisa mencapai 20-40%. Komponen impor dari bahan baku industri pengemasan di Indonesia masih tinggi, yakni 60- 70%. Untuk itu imbas dari kenaikan biaya raw material dan freight cost global ini masih sangat besar. Produsen kemasan Indonesia terpaksa harus menaikkan harga produk untuk menghindari kerugian produksi.

Penyebab kenaikan raw material ini salah satunya dari kri- sis energy mulai dari natural gas, batu bara mau pun crude oil. Selain sebagai sumber energi, natural gas sebenarnya me- rupakan bahan dasar dalam produksi plastik dan synthetic poly- mer, diantaranya polypropylene dan polyethylene. Adapun negara yang terimbas oleh kenaikkan biaya energi diantaranya China dan Eropa. Di China terutama, banyak industri yang terpaksa menghentikan kegiatan produksi karena pembatasan pemer- intah (terkait emisi karbon) dan ketersediaan energi untuk opera- sional pabrik. Sementara untuk USA, selain krisis energi, lonjakan inflasi, badai yang sering terjadi, serta keterbatasan SDM, telah memperburuk kenaikan harga raw material.

Meski demikian, potensi penurunan harga terutama untuk PE dan PP masih ada. Mengutip dari JP Nah (IHS Markit, 2021) diperkirakan terdapat 7.1 juta MT surplus kapasitas produksi PE dari China sepanjang 2021-2023. Sementara untuk PP, surplus kapasitas mencapai 7.5 juta MT antara 2020-2024, dengan China masih sebagai kontributor utama. Untuk itu ekspektasi harga PE dan PP kedepannya akan berangsur turun meski tidak kembali ke level harga di tahun 2019.

Biaya raw material dan logistik global yang tidak menentu ini diperkirakan baru akan berangsur normal di Q2 tahun 2022 ini. Perkiraan ini didasarkan pada asumsi bahwa operasional industri dan shipment China kembali normal selepas perayaan Chinese New Year dan Winter Olympic di Beijing. Selain itu, demand energy yang turun di musim panas diharapkan dapat menurunkan harga batu bara, crude oil dan natural gas.