Market Outlook 2022 Industri Pengemasan

  • Home
  • Market Outlook 2022 Industri Pengemasan

Tahun 2021 merupakan tahun dengan fluktuasi pasar yang cukup tajam. Temuan varian baru COVID-19, pemulihan ekonomi, supply raw material, logistic, dan krisis energy memberikan tantangan tersendiri bagi Industri pengemasan Indonesia di tahun 2022 ini. Diharapkan informasi yang disampaikan dalam market review industri pengemasan ini mampu membantu industri pengemasan dalam menyusun strategi untuk mewujudkan ketahanan bisnis yang lebih baik.

Varian Baru COVID-19 dan Daya Beli Masyarakat

Varian baru COVID-19 Delta dan Omicron sedikit menekan laju pemulihan ekonomi Indonesia di tahun 2021. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 diperkirakan mencapai 3.7% atau terkoreksi lebih rendah dari perkiraan di awal tahun yakni 4.4%.

Dikutip dari markiteconomic.com temuan varian Omicron sempat menekan nilai PMI (Purchasing Managers’ Index) di November 2021 ke 53.9, setelah 3 bulan berturut-turut naik hingga puncaknya 57.2 pada October 2021. Meski demikian IKKI (Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia) sendiri masih terjaga tinggi yakni sebesar 118.5 pada November 2021 atau naik 4.5% dibandingkan bulan sebelumnya. Sejalan dengan informasi ini Bank Indonesia juga mencatat peningkatan order dari pasar local selama tiga bulan terakhir. Sayangnya permintaaan pasar ekspor Indonesia malah cenderung turun. Hal ini sudah berlangsung dalam lima bulan terakhir. Breakout COVID-19 di US dan Eropa serta perlambatan ekonomi di China menjadi pemicu lemahnya permintaan
ekspor di semester dua tahun 2021.

Perkembangan industri pengemasan sangat lekat dengan peningkatan daya beli dan kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal terutama consumer goods. Meskipun pada akhir tahun ini demand ekpor melemah, namun kecenderungan peningkatan permintaan pasar lokal masih cukup baik untuk menjanjikan pertumbuhan market packaging di tahun 2022 sebesar 4-7%.

Pasokan Material dan Logistik Global

Sepanjang 2021 kesulitan logistik masih belum dapat teratasi dengan baik. Dari sisi raw material packaging, kenaikan harga yang sangat signifikan terjadi di Q3-Q4. Kenaikan harga bahan baku 2021 bisa mencapai 20-40%. Komponen impor dari bahan baku industri pengemasan di Indonesia masih tinggi, yakni 60-70%. Untuk itu imbas dari kenaikan biaya raw material dan freight cost global ini masih sangat besar. Produsen kemasan Indonesia terpaksa harus menaikkan harga produk untuk menghindari
kerugian produksi.

Penyebab kenaikan raw material ini salah satunya dari krisis energy mulai dari natural gas, batu bara mau pun crude oil. Selain sebagai sumber energi, natural gas sebenarnya me-
rupakan bahan dasar dalam produksi plastik dan synthetic polymer, diantaranya polypropylene dan polyethylene. Adapun
negara yang terimbas oleh kenaikkan biaya energi diantaranya China dan Eropa. Di China terutama, banyak industri yang terpaksa menghentikan kegiatan produksi karena pembatasan pemerintah (terkait emisi karbon) dan ketersediaan energi untuk operasional pabrik. Sementara untuk USA, selain krisis energi, lonjakan inflasi, badai yang sering terjadi, serta keterbatasan SDM, telah memperburuk kenaikan harga raw material.

Meski demikian, potensi penurunan harga terutama untuk PE dan PP masih ada. Mengutip dari JP Nah (IHS Markit, 2021) diperkirakan terdapat 7.1 juta MT surplus kapasitas produksi PE dari China
sepanjang 2021-2023. Sementara untuk PP, surplus kapasitas mencapai 7.5 juta MT antara 2020-2024, dengan China masih sebagai kontributor utama. Untuk itu ekspektasi harga PE dan PP kedepannya akan berangsur turun meski tidak kembali ke level harga di tahun 2019.

Biaya raw material dan logistik global yang tidak menentu ini diperkirakan baru akan berangsur normal di Q2 tahun 2022 ini. Perkiraan ini didasarkan pada asumsi bahwa operasional industri dan shipment China kembali normal selepas perayaan Chinese New Year dan Winter Olympic di Beijing. Selain itu, demand energy yang turun di musim panas diharapkan dapat menurunkan harga batu bara, crude oil dan natural gas.

Produsen Plastik, Kertas, dan Gelas Dalam Negeri

Industri plastik di Indonesia masih terus mengupayakan realisasi investasi sebesar 28 miliar USD yang ditujukan pada peningkatan kapasitas produksi plastik dalam negeri dalam jangka 5-10 tahun kedepan. Ada pun wujud nyata dari proyek investasi ini berupa pengadaan new production facility untuk PE dan PP, peningkatan kapasitas unit existing, upgrade infrastruktur, dan persiapan SDM (setara diploma) yang dibutuhkan industri plastik. Investasi jangka menengah ini penting untuk meningkatkan persentasi komponen dalam negeri pada produk pengemasan Indonesia.

Secara operasional, selama 2021, produsen plastik hulu masih mampu menjaga operating rate di level 70-90% kapasitas dan tidak melakukan lay-off terhadap karyawan tetap. Hal ini menunjukkan bahwa industry plastik Indonesia masih cukup resilient dalam menghadapi tantangan pasca COVID-19.

Perkembangan lain terkait plastic packaging adalah program daur ulang plastik. Di tahun 2020, Kementerian Perindustrian menghimbau daur ulang kemasan botol plastik sebagai bagian program Sustainable Growth Development / SGD. Di tahun 2021, himbauan daur ulang juga mulai diperluas ke kemasan fleksibel. Daur ulang kemasan fleksibel multi la-yer jauh lebih sulit dibanding dengan kemasan botol. Hal ini dikarenakan kuantitas untuk collecting yang lebih kecil dan sistem multi layer kemasan fleksibel saat ini tidak recyclable. Adapun langkah yang diterapkan perusahaan MNC dan pemerintah untuk mengupayakan daur ulang kemasan fleksibel adalah dengan melakukan edukasi ke konsumen serta membangun kerjasama dengan organisasi daur ulang seperti ADUPI dan IPRO, serta memperbaiki desain kemasan fleksibel kearah mono material packaging tanpa menurunkan fungsionalitas dan kualitas dari packaging itu sendiri.

Industri kertas dalam negeri mencatat pertumbuhan produksi. Issue pembatasan plastik memberikan dampak positif bagi industri pengemasan berbahan kertas yang dianggap lebih ramah lingkungan. Tercatat Tjiwi Kimia dan Indah Kiat mengalihkan proporsi business mereka dari kertas budaya ke kertas industri yang salah satunya untuk memenuhi kebutuhan kemasan kertas. Penggunaan corrugated packaging untuk online shopping dan kotak laminasi untuk food delivery meningkat sepanjang 2021.

Industri gelas Indonesia terus berusaha mengoptimalkan penggunaan energy dalam proses produksi. Ada pun beberapa tindakan yang diupayakan melalui optimasi pembakaran dan meningkatkan komposisi gelas recycle untuk menekan melting temperature dan menekan konsumsi energy dalam produksi kemasan gelas.

Tren Industri Kemasan Indonesia

Gaya hidup digital membawa perubahan fundamental terhadap gaya belanja masyarakat serta bagaimana produk dikemas, didistribusikan dan disajikan kepada konsumen. Penggunaan corrugated box, wrapping plastic, bubble wrap, ready-to-meal box, retort, sachet, single bite packaging meningkat karena perubahan trend ke arah urban lifestyle. Penggunaan kemasan untuk ready to eat atau ready to prep mulai banyak dilirik menyesuaikan de-ngan kebutuhan akan produk instan yang tetap berkwalitas dan hygiene. Selain itu, consumer terutama generasi milenial sangat menyukai hal baru, untuk itu produk dengan kemasan kecil namun variatif menjadi sangat digemari saat ini.

Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah over used packa-
ging yang sangat sering terjadi. Sampah dari post used packaging
terutama plastic menjadi sangat menumpuk pasca booming online shopping. Sebenarnya awareness dari masyarakat dan pemerintah terhadap issue sampah sudah ada. Selain itu industri pengemasan juga sudah terus di dorong untuk berbenah.

Collecting botol PET bekas pakai dan recycle sudah dilakukan, dan budaya collecting post-used packaging untuk flexible packaging juga terus diupayakan. Proses fleksibel packaging desain dari multi layer ke mono material masih terus diupayakan. Pada apli-
kasi tertentu, mono material packaging masih sulit menyamai kualitas flexible packaging yang ada, baik secara tampilan ataupun kegunaannya. Kemasan yang bisa di reuse, recycle dan biodegradable tanpa mengurangi nilai mutu atau fungsinya menjadi target development bagi industry pengemasan di 2022.

Penyusunan pedoman dan kooperatif untuk mendukung rdaur ulang plastik terus diupayakan. IPF bersama WPO aktif dalam penyusunan Packaging Design for Recycling Guidelines. Disamping itu networking antara aliansi para brand owner seperti Danone, Nestle, Unilever, Coca Cola, Indofood dan Tetrapak dengan nama PRAISE, yang membentuk badan pelaksana IPRO dan asosiasi daur ulang plastik ADUPI terus digalakkan. Menggantikan packaging design menjadi recyclable, edukasi consumers, penyiapan collecting post used packaging waste dan system rewarding atau insentif menjadi pekerjaan rumah yang terus digarap. Upaya ini diharapkan dapat mendukung tercapainya circular economy untuk industri pengemasan sepuluh tahun kedepan.

Tahun 2019 hingga 2021 bisa jadi merupakan tahun yang cukup
berat. Reformasi pada operasional industri, fluktuasi supply dan demand, kondisi finansial, dan issue lingkungan datang ber-
barengan. IPF sendiri melihat tantangan ini sebagai katalis bagi inovasi agar tercapainya peralihan ke teknologi ke arah yang
lebih positif di masa mendatang. Selama masa transisi ini, fleksibiltas, inovasi dan kesiapan beradaptasi ke situasi new normal menjadi kompetensi yang wajib dimiliki industri untuk tetap stabil atau bahkan berkembang dan bersaing di pasar baik lokal mau pun global.

Indonesian Packaging Federation – jan 2022